Membangun Masa Depan Kalteng: Sinergi Pendidikan dan Pariwisata sebagai Pilar Pembangunan Berkelanjutan
Kalimantan Tengah (Kalteng) terus menapaki jalan
transformasi. Tidak hanya dalam pembangunan infrastruktur dan ekonomi, tetapi
juga dalam membangun manusia dan memanfaatkan kekayaan budaya serta keindahan
alamnya. Salah satu strategi yang kini digenjot oleh Pemerintah Provinsi
Kalteng adalah membangun kolaborasi yang erat antara sektor pendidikan dan
pariwisata. Kolaborasi ini diyakini mampu menciptakan ekosistem pembangunan
yang inklusif dan berkelanjutan.
Awal Gerakan: Kunjungan Inspiratif ke Desa Kumpai Batu Atas
Langkah konkret terhadap sinergi dua sektor penting ini
tercermin dalam kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran,
beserta tim ke beberapa lokasi strategis, termasuk Tempat Pendidikan Al-Qur'an
(TPA) Masjid Baiturrohman dan destinasi wisata lokal di Desa Kumpai Batu Atas,
Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kunjungan tersebut
menjadi simbol dari pendekatan baru dalam pembangunan daerah: pendidikan dan
pariwisata tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling
mendukung dan menguatkan.
Desa Kumpai Batu Atas, yang selama ini dikenal sebagai kawasan yang tenang dan asri, menjadi sorotan karena potensinya yang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis komunitas. Potensi ini tidak hanya terletak pada alamnya, tapi juga budaya dan semangat gotong royong masyarakatnya.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut Bupati Kotawaringin Barat Hj. Nurhidayah, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng Muhammad Reza Prabowo, serta sejumlah kepala perangkat daerah. Kehadiran para pemangku kebijakan lintas sektor ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk membangun pendekatan lintas disiplin dalam proses pembangunan daerah.
Pendidikan sebagai Pondasi, Pariwisata sebagai Katalisator
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Reza Prabowo
menyampaikan pandangannya yang mendalam tentang pentingnya konektivitas antara
pendidikan dan pariwisata. Menurutnya, pendidikan adalah pondasi utama untuk
membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sementara pariwisata bisa
menjadi katalisator yang mendorong pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan
pembentukan karakter generasi muda.
“Generasi muda Kalimantan Tengah adalah aset berharga yang harus kita jaga dan kembangkan. Mereka harus jadi tuan di daerahnya sendiri,” ujar Reza. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, tetapi menjadi visi yang kini diarahkan untuk diimplementasikan dalam bentuk program-program nyata.
Ia menjelaskan bahwa penguatan sektor pendidikan di daerah tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur sekolah atau peningkatan kualitas guru. Pendidikan harus dikaitkan secara langsung dengan potensi lokal dan peluang kerja di masa depan. Dalam konteks ini, sektor pariwisata adalah jembatan yang menghubungkan antara dunia pendidikan dan dunia nyata.
Pendidikan Kontekstual: Menanamkan Cinta pada Tanah Kelahiran
Pendidikan kontekstual berbasis kearifan lokal menjadi salah
satu pendekatan yang kini mulai didorong di berbagai satuan pendidikan di
Kalimantan Tengah. Dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya sebagai bahan
ajar, peserta didik diajak untuk mengenal dan mencintai daerahnya sendiri.
Program seperti field trip ke lokasi wisata lokal, pelatihan menjadi pemandu wisata muda, atau pelibatan siswa dalam kegiatan pelestarian lingkungan di sekitar destinasi wisata menjadi contoh konkret integrasi antara pendidikan dan pariwisata. Ini sejalan dengan filosofi huma betang —sebuah nilai kearifan lokal Dayak yang menjunjung tinggi kebersamaan, keadilan, dan gotong royong.
Reza menekankan bahwa semangat huma betang harus menjadi ruh dari setiap kebijakan pembangunan di Kalteng, termasuk dalam pendidikan dan pariwisata. "Kita harus menanamkan nilai-nilai ini sejak dini kepada generasi muda. Mereka harus memahami bahwa membangun daerah bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tentang menjaga warisan leluhur dan alam yang kita miliki," ujarnya.
Menghidupkan Desa Wisata Lewat Peran Anak Muda
Desa Kumpai Batu Atas kini mulai menggeliat sebagai salah
satu desa wisata yang menjanjikan. Keindahan alam, keramahan masyarakat, serta
kekayaan tradisi menjadi modal utama. Namun, tantangan terbesar tetap terletak
pada sumber daya manusia, khususnya keterlibatan generasi muda dalam mengelola
dan mempromosikan potensi wisata desanya.
Di sinilah pentingnya peran dunia pendidikan. Sekolah-sekolah di sekitar wilayah tersebut mulai diajak berkolaborasi untuk merancang program-program pendidikan yang aplikatif. Salah satunya adalah pengembangan mata pelajaran muatan lokal yang fokus pada budaya dan pariwisata daerah, serta pelatihan kewirausahaan berbasis produk lokal.
Bupati Nurhidayah dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan masyarakat desa, terutama pemuda, dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. "Desa wisata harus dikelola oleh masyarakatnya sendiri. Pemerintah akan mendukung dari sisi regulasi, pelatihan, dan infrastruktur. Tapi semangat dan kreativitas harus muncul dari warga, khususnya generasi mudanya," ujar Bupati.
Transformasi Digital dan Branding Destinasi
Dalam era digital, promosi wisata tidak bisa hanya
mengandalkan spanduk dan brosur. Diperlukan strategi komunikasi yang modern dan
kreatif. Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalteng juga mulai merancang kerja
sama dengan perguruan tinggi dan komunitas digital kreatif untuk mendampingi
desa-desa wisata dalam membangun citra digital mereka.
Misalnya, siswa SMK jurusan multimedia atau mahasiswa komunikasi dari universitas lokal bisa dilibatkan dalam proyek-proyek seperti pembuatan video promosi desa, pengelolaan akun media sosial, hingga pengembangan aplikasi panduan wisata berbasis mobile. Ini tidak hanya membuka peluang kerja dan magang bagi pelajar, tetapi juga memberi nilai tambah pada pengelolaan destinasi wisata itu sendiri.
“Kolaborasi lintas sektor ini adalah investasi jangka panjang. Kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya terdidik secara akademis, tetapi juga adaptif, kreatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan,” tambah Reza.
Menyiapkan Infrastruktur Pendukung: Dari Akses Jalan hingga Homestay
Sinergi pendidikan dan pariwisata tidak akan maksimal jika
tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Oleh sebab itu,
pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk membangun akses jalan menuju
desa-desa wisata, menyediakan fasilitas air bersih, serta membangun jaringan
internet sebagai bagian dari kebutuhan dasar pariwisata modern.
Selain itu, pelatihan pengelolaan homestay juga mulai dilakukan agar masyarakat lokal bisa mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung dari wisatawan yang datang. Pelatihan ini tidak hanya mencakup aspek teknis seperti pelayanan tamu dan kebersihan, tetapi juga pelatihan bahasa asing dan etika wisata.
Program-program seperti ini akan lebih berdampak jika dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Pelajar bisa menjadi bagian dari tim pelayanan homestay, sekaligus belajar manajemen pariwisata langsung di lapangan.
Kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Komunitas
Tak kalah pentingnya adalah membangun kemitraan dengan
sektor swasta dan komunitas lokal. Dunia usaha bisa dilibatkan dalam bentuk
program CSR yang fokus pada pendidikan dan pariwisata, misalnya dengan
memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi di desa wisata, atau menyediakan
pelatihan gratis dalam bidang hospitality dan digital marketing.
Sementara itu, komunitas lokal seperti kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok seni budaya, serta organisasi pemuda bisa menjadi penggerak utama dalam mewujudkan desa wisata yang berdaya. Pemerintah, dalam hal ini, berperan sebagai fasilitator dan pembuka jalan.
Menuju Masa Depan: Kalteng yang Mandiri, Berbudaya, dan Kompetitif
Kolaborasi antara pendidikan dan pariwisata bukan hanya soal
meningkatkan pendapatan atau jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, ini
adalah tentang membentuk karakter, memperkuat identitas budaya, dan menciptakan
ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.
Kalimantan Tengah dengan segala kekayaan alam dan budayanya memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di Indonesia. Namun, itu hanya bisa terjadi jika pembangunan dilakukan secara terintegrasi dan partisipatif, melibatkan semua elemen masyarakat, terutama generasi mudanya.
Melalui pendekatan ini, Kalteng tidak hanya sedang membangun infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial dan intelektual yang akan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih cerah.
Sebagaimana disampaikan oleh Plt. Kadisdik Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, “Kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan bangga menjadi orang Kalimantan Tengah, mencintai tanah kelahirannya, dan mampu membawa nama daerahnya ke tingkat nasional bahkan internasional.”
Perjalanan menuju pembangunan yang ideal memang tidak mudah dan tidak instan. Tapi dengan tekad, kolaborasi, dan strategi yang tepat, Kalimantan Tengah sedang menapaki jalannya menuju provinsi yang mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai budayanya.
Melalui sinergi pendidikan dan pariwisata, kita sedang menyemai benih-benih masa depan — masa depan yang ditopang oleh generasi muda yang cerdas, tangguh, dan bangga menjadi bagian dari Bumi Tambun Bungai.