Banjir Kalimantan Barat: Ribuan Rumah Terendam, 36.601 Jiwa Terdampak, dan Ancaman Cuaca Ekstrem

  

Pontianak, Maret 2025 – Banjir besar kembali melanda Kalimantan Barat, mengakibatkan dampak yang luas bagi masyarakat di enam kabupaten. Bencana yang terjadi sejak Februari lalu hingga Maret ini telah menggenangi ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat kini tengah berupaya melakukan penanganan darurat serta kajian cepat untuk menentukan langkah pemulihan bagi masyarakat terdampak.

Ketua Satgas Informasi BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengungkapkan bahwa enam kabupaten yang mengalami dampak banjir paling parah adalah Kabupaten Landak, Sanggau, Kubu Raya, Ketapang, Melawi, dan Kapuas Hulu. Hingga saat ini, total 65 desa di 13 kecamatan masih terendam air dengan berbagai tingkat keparahan. Beberapa wilayah mengalami genangan air yang bertahan lebih lama akibat intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya sungai-sungai utama di Kalimantan Barat.

 

Dampak dan Jumlah Korban

Menurut laporan terbaru yang diterima BPBD Kalbar, jumlah warga terdampak mencapai 36.601 jiwa yang tersebar di 11.470 kepala keluarga (KK). Ribuan rumah mengalami kerusakan dengan total 5.972 unit rumah yang terendam banjir. Beberapa daerah bahkan mengalami ketinggian air hingga lebih dari satu meter, membuat warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Banjir kali ini benar-benar memberikan dampak signifikan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi ke posko darurat yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah dan organisasi kemanusiaan," ujar Daniel dalam keterangannya kepada media.

BPBD bersama tim relawan masih berusaha melakukan evakuasi bagi warga yang terjebak di rumah mereka, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Selain itu, proses pembersihan rumah-rumah yang mulai surut juga tengah dilakukan secara bertahap. Namun, tantangan masih terus dihadapi akibat curah hujan yang belum sepenuhnya mereda.

 

Kerusakan Infrastruktur dan Tantangan Pemulihan

Selain merendam ribuan rumah, banjir juga mengakibatkan kerusakan serius pada infrastruktur umum. Beberapa jalan utama di Kabupaten Landak dan Kapuas Hulu dilaporkan mengalami longsor dan kerusakan akibat derasnya arus air. Jembatan yang menghubungkan beberapa desa juga mengalami kerusakan, membuat akses bantuan ke daerah terdampak semakin sulit.

"Kami tengah melakukan inventarisasi kerusakan yang terjadi. Saat ini, fokus kami adalah menilai kategori kerusakan apakah masuk dalam kategori berat, sedang, atau ringan. Ini penting agar bantuan yang diberikan tepat sasaran," jelas Daniel.

BPBD juga melaporkan bahwa beberapa fasilitas publik, seperti sekolah dan puskesmas, turut terendam air, sehingga aktivitas pendidikan dan layanan kesehatan terganggu. Beberapa sekolah yang terdampak banjir masih menutup kegiatan belajar mengajar dan dialihkan ke sistem daring atau lokasi sementara yang lebih aman.

 

Upaya Pemerintah dan Bantuan Kemanusiaan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama BPBD dan berbagai instansi terkait saat ini tengah melakukan kajian cepat pasca-bencana. Langkah ini dilakukan untuk menentukan strategi pemulihan bagi warga yang terdampak serta memastikan bantuan dapat segera didistribusikan secara efektif.

"Setelah proses inventarisasi selesai, kami akan mengajukan rencana pemulihan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi. Langkah-langkah ini mencakup bantuan logistik, perbaikan rumah warga, hingga rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat banjir," tambah Daniel.

Selain itu, berbagai organisasi kemanusiaan, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, telah terlibat dalam memberikan bantuan kepada korban. Bantuan yang diberikan meliputi makanan siap saji, selimut, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya.

Pemerintah juga telah membuka beberapa posko pengungsian di daerah terdampak untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. Di posko-posko ini, layanan kesehatan gratis dan dapur umum juga telah didirikan untuk memastikan kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi sementara waktu.

 

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Mitigasi Bencana

Meskipun beberapa daerah telah mengalami penurunan debit air, BPBD Kalimantan Barat tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Kalimantan Barat selama beberapa minggu ke depan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengikuti informasi cuaca yang disampaikan oleh BMKG serta tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan. Banjir kali ini menjadi peringatan bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi kapan saja, dan mitigasi harus terus dilakukan," ujar Daniel.

Pemerintah daerah juga tengah mengkaji langkah-langkah mitigasi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Beberapa strategi yang sedang dibahas termasuk pembangunan tanggul di daerah rawan banjir, peningkatan sistem drainase di kawasan perkotaan, serta program penghijauan di hulu sungai guna mengurangi erosi dan sedimentasi yang memperparah banjir.

"Kami juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama di aliran sungai. Ini adalah langkah sederhana tetapi sangat berpengaruh dalam mengurangi potensi banjir," tambahnya.

 

Kesaksian Warga: Bertahan di Tengah Musibah

Di tengah upaya penanganan bencana, beberapa warga yang terdampak banjir menceritakan pengalaman mereka menghadapi musibah ini. Supriyadi (45), seorang warga di Kabupaten Ketapang, mengungkapkan bahwa banjir datang dengan cepat dan merendam rumahnya dalam hitungan jam.

"Saya tidak menyangka air akan naik secepat ini. Malam itu hujan deras, dan tiba-tiba air sudah masuk ke dalam rumah. Kami langsung berusaha menyelamatkan barang-barang penting, tapi banyak yang terendam," katanya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Melawi, Fitri (38), menyatakan bahwa banjir kali ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Setiap tahun memang ada banjir, tapi kali ini sangat parah. Kami terpaksa mengungsi ke rumah saudara di desa sebelah karena rumah kami terendam hampir seluruhnya," ujarnya.

Banyak warga berharap agar pemerintah dapat segera memberikan bantuan dan solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahunnya. Selain itu, mereka juga berharap adanya sistem peringatan dini yang lebih efektif agar masyarakat dapat bersiap sebelum banjir datang.

Banjir yang melanda Kalimantan Barat kali ini telah memberikan dampak besar bagi masyarakat di enam kabupaten. Ribuan rumah terendam, puluhan ribu jiwa terdampak, dan infrastruktur publik mengalami kerusakan. Pemerintah bersama BPBD dan berbagai pihak terkait terus berupaya menangani dampak bencana ini dengan berbagai langkah, termasuk bantuan darurat, evakuasi, serta kajian cepat pasca-bencana.

Namun, ancaman cuaca ekstrem masih berlanjut, sehingga masyarakat diminta untuk tetap waspada. Ke depan, mitigasi bencana harus menjadi prioritas agar kejadian serupa dapat dicegah atau setidaknya diminimalisir dampaknya. Pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait perlu bersinergi dalam membangun sistem yang lebih tangguh menghadapi bencana alam di masa mendatang.

Dengan segala upaya yang dilakukan, harapannya Kalimantan Barat dapat segera pulih dari dampak banjir ini dan masyarakat yang terdampak dapat kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal.

Next Post Previous Post